Saat Rasulullah SAW masih hidup ada beberapa orang yang ditunjuk untuk menulis Al-Quran yaitu

Ilustrasi seseorang tengah menulis dalam bahasa Arab. Elena Mullagaleeva / Pixabay

Sebagai seorang kepala pemerintahan, Nabi Muhammad SAW menempatkan para sahabatnya di pos-pos jabatan sesuai dengan profesionalisme mereka. Sebut saja Zaid bin Tsabit yang ditugaskan untuk menulis surat kepada raja-raja.

Ali bin Abi Thalib bertugas sebagai penulis akad-akad perjanjian. Al-Mughirah bin Syu’bah mengemban amanah sebagai pencatat utang-piutang dan akad lainnya di tengah masyarakat, dan sebagainya.

Nabi Muhammad SAW baik dalam kedudukannya sebagai kepala pemerintahan maupun sebagai Nabi, membutuhkan para juru tulis untuk membantu penulisan wahyu, sabda-sabdanya maupun sekretaris kenegaraan yang bertugas menulis surat, membalas surat dan surat-surat lain yang berhubungan dengan administrasi Negara (Madinah).

Oleh karena itu, al-Baqilani dalam karyanya al-Intishar lil Quran sebagaimana dikutip oleh Musthafa Azami mengatakan, “Nabi SAW memiliki banyak pengikut yang cerdas di mana semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau. Mereka berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Para Sekretaris Nabi

Tradisi menulis di jazirah Arab sejak masa pra-Islam sudah berjalan. Para penulis di era ini menempati posisi yang cukup prestisius.

Ibnu Sa’d dalam thabaqat-nya menyatakan bahwa di masa Jahiliyah dan masa awal Islam seseorang dapat dianggap memiliki kesempurnaan bilamana ia mampu menulis Arab, pandai berenang dan kemampuan memanah. Meskipun demikian, orang-orang yang memiliki kemampuan dalam bidang tulis menulis pada masa itu belum cukup banyak.

Konon, sebagaimana diungkap oleh Ibnu Abd Rabbih dalam karyanya al–Iqd al-Farid, pada saat Islam datang, hanya terdapat sekitar tujuh belas orang Quraisy yang memiliki kemampuan menulis.

Al-Jahsayari mendaftar cukup banyak nama-nama juru tulis nabi. Sahabat Ali bin Abu Thalib dan sahabat Utsman bin Affan disebut olehnya sebagai penulis wahyu. Bilamana keduanya tidak ada pada saat turunnya wahyu, maka yang bertugas mencatatnya adalah Ubay bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit.

Sedangkan Khalid bin Sa’id dan Muawiyah ibn Abu Sufyan menulis segala hal yang dibutuhkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Musthafa Azami mengklasifikasikan tingkatan para sekretaris Nabi ditinjau dari segi frekuensi menulis dan data-data lainnya menjadi tiga kelompok besar.

Pertama, kelompok yang dikenal sebagai sekretaris yang sering menulis, seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Muawiyah bin Abi Sufyan.

Kedua, kelompok sahabat yang ditetapkan sebagai sekretaris, hanya saja tingkat menulisnya tidak sebagaimana kelompok pertama. Di antaranya adalah Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Abu Ayyub al-Anshari, dan sahabat lainnya.

Ketiga, para sahabat yang nama-namanya tercantum dalam kitab al–watsaiq as-siyasiyyah dan kitab-kitab lain sejenisnya. Di antaranya adalah Ja’far, al-Abbas, Abdullah bin Abu Bakar dan lain sebagainya. (MR)

Catatan: Artikel ini ditulis oleh Muhammad Idris dan pertama terbit di Alif.id.

Home Gaya Hidup Gaya Lainnya

KISAH SAHABAT NABI

tim | CNN Indonesia

Minggu, 25 Apr 2021 16:58 WIB

Zaid bin Tsabit adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang mendapat tugas menulis wahyu dan menghimpun Al-Qur'an.(Foto: CNNIndonesia/Fajrian)

Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Zaid bin Tsabit sangat terkenal pada zaman kenabian. Zaid bin Tsabit adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Dia mendapat kepercayaan penuh dari Rasulullah menjadi penulis wahyu dan surat-surat Nabi.

Sebelum mendapat tugas menulis wahyu dan menghimpun Al-Qur'an, Zaid Bin Tsabit merupakan seorang sahabat Anshar dari Madinah.

Pertemuan pertamanya dengan Rasulullah terjadi saat usia Zaid masih 11 tahun. Ketika itu Rasulullah datang berhijrah ke Madinah. Zaid dan keluarganya masuk Islam. Rasulullah pun mendoakan keberkahan untuk dirinya.

Zaid terkenal sebagai anak yang pemberani dan bersemangat. Ketika perang Uhud, Zaid dan kawan-kawannya menemui Rasulullah supaya bisa diikutkan dalam peperangan. Namun, Rasul menolak karena umur mereka masih terlalu kecil.

Saat itu, Rasul menjanjikan kepada Zaid dan teman-temannya bahwa mereka akan diajak pada perang yang akan datang.

Zaid kecil tumbuh sebagai muslim yang cerdas. Zaid mampu menghafal Alquran, menulis wahyu untuk Rasulullah, serta menguasai ilmu hikmah.

"Zaid bin Tsabit di Madinah adalah orang terdepan di bidang kehakiman, fatwa, qira'ah dan fara'idh," kata salah seorang sahabat Nabi, Qabishah, dikutip dalam buku Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid.

Zaid bin Tsabit adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang mempunyai tugas menulis wahyu, menghimpun Al-Qur'an, serta menulis surat-surat Nabi.(Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Suatu hari Rasullulah mendapat tugas untuk menyampaikan dakwah ke dunia luar dan mengirimkan surat kepada para Kaisar dan Raja di seluruh penjuru dunia.

Kecerdasan, keterampilan, dan kecakapan Zaid, membuat Rasulullah memintanya untuk mempelajari berbagai bahasa asing termasuk aksara Yahudi.

Tugas dari baginda Rasul untuk belajar bahasa dan aksara tersebut disanggupi Zaid hingga dia fasih secara lisan maupun tulisan dalam waktu singkat.

Sejak saat itulah, Zaid berperan sebagai penerjemah dan menulis balasan surat-surat ketika Nabi hendak mengirim surat atau menerima surat dari para Kaisar. Zaid pun kerap disebut sebagai tangan kanan Rasulullah.

Kepintaran Zaid juga membuatnya dipercaya mengemban salah satu tugas paling mulia dalam sejarah Islam yaitu menghimpun Al-Qur'an.

Zaid mulai melaksanakan tugas itu secara perlahan dan berhati-hati. Dia menghafal satu per satu wahyu yang turun kepada Rasulullah selama kurang lebih 21 tahun.

ibin, Ambarawa, Jawa Tengah, Kamis (1/6). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/17." title="GEMA RAMADAN DARI RUMAH PENCARI TAUBAT" />Zaid bin Tsabit adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang mempunyai tugas menulis wahyu, menghimpun Al-Qur'an, serta menulis surat-surat Nabi. (Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Pasca Rasulullah wafat, Umar bin Khattab meminta Khalifah Abu Bakar menghimpun Al-Qur'an secepat mungkin. Abu Bakar pun beristikharah. Kemudian dia memanggil Zaid untuk segera menghimpun Al-Qur'an.

"Demi Allah, andai mereka menugaskan ku memindahkan gunung dari tempatnya, niscaya itu lebih mudah dibanding menghimpun Al-Qur'an," kata Zaid saat itu.

Zaid tetap melakukan tugas itu dengan baik hingga Al-Qur'an berhasil dihimpun menjadi sebuah kitab yang dibaca hingga saat ini. Dalam tiap lembar Al-Quran yang kita baca saat ini, terdapat goresan tinta Zaid bin Tsabit, sahabat Nabi yang menulis wahyu dan surat Rasulullah.

(avd/ptj)

Saksikan Video di Bawah Ini:

TOPIK TERKAIT

Selengkapnya

BincangSyariah.Com – Ibnu Hajar Al- Asqalani mengatakan dalam Fathul Bari bahwa selama ini satu-satunya sahabat yang lebih dikenal sebagai sekretaris Nabi hanyalah Zaid bi  Sabit.  Padahal masih banyak yang lainnya. Para sekretaris tersebut diberi tugas untuk menuliskan wahyu atau tugas tulis-menulis lainnya.

Dalam sebuah hadis diceritakan

عَنْ عُثْمَان بْن عَفَّانَ قَالَ ” كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا يَأْتِي عَلَيْهِ الزَّمَان يَنْزِل عَلَيْهِ مِنْ السُّوَر ذَوَات الْعَدَد ، فَكَانَ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الشَّيْء يَدْعُو بَعْض مَنْ يَكْتُب عِنْده فَيَقُول : ضَعُوا هَذَا فِي السُّورَة الَّتِي يُذْكَر فِيهَا كَذَا “

Dari Usman bin Afan berkata, dahulu Rasulullah Saw. jika datang waktu ketika wahyu diturunkan dari beberapa surat yang memiliki banyak ayat. Saat ayat-ayat itu diturunkan kepada Nabi, beliau akan memanggil beberapa sekretaris untuk menuliskannya di sampingnya, beliau lalu berkata, “Letakkanlah ini di surat yang menyebutkan tentang  hal ini di dalamnya seperti itu.” [HR. Nasai, Abu Daud, Tirmizi, Ahmad]

Jadi demikianlah bagaimana Alquran dituliskan pada masa awal, beberapa mereka ada yang menuliskannya di pelepah kurma, batu, tulang dan lain sebagainya. Berikut adalah daftar nama para sekretaris Nabi Muhammad Saw. yang Ibnu Hajar sebutkan salam kitab Fathul Bari di antaranya

Zaid bin Sabit masuk Islam setelah hijrah, karena itu wahyu yang turun di Madinah banyak dituliskan oleh Zaid. Dan karena saking banyaknya wahyu yang dituliskannya, ia akhirnya dikenal sebagai sang penulis wahyu atau sekretaris Nabi. Sehingga ketika Abu Bakar berinisiatif mengumpulkan Alquran, Zaid bin Sabit adalah salah satu orang yang beliau percaya untuk membantu.

Di Madinah, Ubay bin ka’ab adalah sahabat pertama yang menuliskan wahyu sebelum Zaid bin Sabit. Ia mencatat dan menyusun Alquran pada zaman Nabi. Beliau adalah orang yang paling fasih membaca Alquran sehingga dikenal sebagai qari’nya Rasullah Saw, banyak para sahabat yang mempelajari tafsir Alquran dari beliau.

  1. Abdullah bin Sa’id bin Abu Sarhi

Di Makkah, Abdullah bin Sa’id bin Abu Sarhi adalah orang Quraish pertama yang menuliskan wahyu. Namun ia pernah keluar dari Islam dan kemudian kembali berislam pada hari Fathul Makkah.

Abu Bakar, Umar bin Khathab, Usman bin Afan, dan Ali bin Abi Thalib, mereka adalah empat sahabat pertama yang memimpin umat Islam sepeninggal Rasulullah. Mereka juga pernah beberapa kali membantu menuliskan wahyu, sebab pernah suatu kali turun wahyu dan saat itu Zaid sedang tidak ada di tempat maka sahabat lain yang bersama Rasul saat itu akan menuliskannya. Dan dalam banyak kesempatan mereka berempat adalah orang-orang yang sering bersama Rasulullah.

Zubair merupakan ponakan dari Sayidah Khadijah ra. beliau menikah dengan Asma binti Abu Bakar. Beliau adalah orang yang menghunuskan pedangnya pertama kali dalam Islam untuk melindungi Rasullah, dalam sebuah hadis beliau berkata, “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki hawarii, dan hawariiku adalah Zubair.”

Khalid bin Sa’id merupakan salah satu bangsawan Quraish, ia adalah sahabat yang mencatat Alquran pada masa-masa awal. Beliau termasuk lima orang angkatan pertama yang masuk Islam. Karena itu beliau disiksa oleh bapaknya di bawah terik sinar matahari lalu ia menginjak-injaknya di atas batu yang panas. Tapi Khalid tetap berpegang teguh dengan keyakinannya. Beliau termasuk sahabat yang ikut dua kali hijrah, ke Habasyah dan Madinah.

Beliau masuk Islam setelah kedua saudaranya, Khalid dan Umar bin Sa’id. Ketika datang para utusan Bahrain untuk menanyakan tentang Islam, Aban bin Khalid adalah orang yang Nabi utus ke negeri tesebut untuk mengajarkan Islam. Di kemudian hari ketika Yaman telah ditaklukkan, Rasul mengutusnya sebagai penguasa kota al-Khath di Bahrain. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai salah satu penulis wahyu, beliau diangkat sebagai pengimla mushaf oleh Ustman.

  1. Hanzalah bin Rabi’ al-Asadi

Para sejaraawan seperti, al-Mizzi, Ibnu Atsir, Ibnu Syabah mencantumkannya sebagai sekretaris Nabi. Dalam Tarikh kabir, mengutip perkataan al-Waqidi menyatakan, “Suatu kali ia menuliskan sebuah surat Nabi., semenjak itu ia digelari sebagai al-Katib. Ketika itu kegiatan tulis-menulis di kalangan Arab masih minim.”

Syurahbil adalah salah seorang pemimpin Quraish yang masuk pada masa awal Islam, beliau tergolong sebagai sahabat yang ikut hijrah ke Habasyah. Pada masa Umar beliau diangkat menjadi salah satu gubernur di wilayah Syam. dalam al-Musbah al-Mudhi’, menurut al-Anshari beliau termasuk orang pertama yang menjadi sekretaris Rasulullah Saw.

Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana wahyu-wahyu Allah SWT dalam Al-Qur'an dapat dibukukan? Pada zaman nabi dan rasul, belum banyak orang-orang yang melek huruf dan pandai baca tulis. Namun, ada beberapa sahabat Rasulullah SAW yang bisa menulis dan membaca tersebut kemudian ditunjuk oleh Rasulullah SAW sebagai penulis Al-Qur'an.

Wahyu dari Allah SWT turun hanya sedikit demi sedikit. Sehingga setiap kali ada wahyu turun, maka para sahabat pun berkumpul lalu mengkaji wahyu tersebut bersama Rasulullah SAW. Wahyu Allah SWT dituliskan di berbagai media seperti tulang, batu, kayu, pelepah kurma, hingga kulit hewan. Lalu, siapa sajakah sahabat Rasulullah SAW yang ditunjuk untuk menuliskan wahyu-wahyu Allah SWT?

1. Para sahabat Rasulullah SAW yang ditunjuk menjadi penulis Al-Qur'an

ilustrasi al-quran [pixabay.com/mohdfaris9]

Adapun Rasulullah SAW menunjuk keempat sahabat berikut untuk menuliskan wahyu Allah SWT yang kemudian disimpan di kediaman Rasulullah SAW, yaitu:

1. Zaid bin Tsabit

Zaid termasuk salah satu sahabat Rasulullah SAW yang juga cerdas di bidang bahasa. Selain itu, Rasulullah SAW pun juga pernah meminta Zaid agar mempelajari Bahasa Yahudi dan Ibrani.

Agar nantinya dapat membaca surat yang datang dan berasal dari kaum Yahudi. Alhasil, permintaan tersebut dipenuhi oleh Zaid dalam waktu yang singkat sekali yaitu hanya 19 hari saja.

Zaid tidak hanya pintar di bidang bahasa saja, ia juga termasuk salah satu ulama terkemuka di Kota Madinah. Zaid menguasai berbagai keilmuan mulai dari fiqih, faraidh atau hukum waris, hingga fatwa.

2. Zubair bin Awwam

Zubair bin Awwam merupakan saudara ipar Rasulullah SAW. Ia mulai memeluk agama Islam setelah menginjak usia 15 tahun dan termasuk ke dalam 7 orang pertama yang masuk Islam kala itu.

Zubair dilahirkan dari keluarga yang terpandang dan terhormat. Ibunya bernama Shofiyah yang merupakan putri pemuka Quraisy dan juga merupakan pemimpin para pelayan Ka’bah. Ibunya ini ternyata juga ikut memeluk agama Islam serta hijrah bersama Zubair.

3. Muawiyah bin Abi Sufyan

Muawiyah merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dipilih untuk menuliskan wahyu Allah SWT setelah Rasulullah SAW berdiskusi dengan Malaikat Jibril. Jibril merekomendasikan Muawiyah karena sifatnya yang jujur.

Muawiyah memeluk agama Islam bersama ayahnya, Abu Sufyan bin Harb dan ibunya Hindun binti Utbah saat terjadi Fathu Makkah. Dikenal cerdik, berwibawa, dan mampu menjadi teladan sahabat lainnya, Muawiyah pun ditunjuk sebagai panglima perang di bawah komando utama Abu Ubaidah bin Jarrah pada masa Khulafaur Rasyidin.

4. Ubay bin Kaab

Setelah Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah, Ubay bin Kaab mulai memeluk agama islam. Ia mempunya nama lain yaitu Abu Thufail [Abu Mundzir].

Selain penulis wahyu, Ubay bin ka'ab ini juga merupakan penghafal Al-Qur'an. Lalu ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Ubay mempunya mushaf yang disusunnya sendiri.

Tidak hanya empat nama di atas, namun sahabat Rasulullah SAW yang lainnya juga ikut menuliskan wahyu Allah SWT. Di antaranya yaitu para Khulafaur Rasyidin [Abu Bakar, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib].

2. Manfaat dan berkah besar dari membaca Al-Qur'an

ilustrasi membaca Al-Qur'an [pexels.com/Thirdman]

Membaca Al-Qur'an akan mendatangkan banyak manfaat bagi diri sendiri juga orang sekitarnya. Allah SWT pun telah menjanjikan pahala berlipat ganda melalui wahyu Al-Qur'an.

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [QS. Al-A'raf: 2014].

Begitupun disampaikan Rasulullah SAW yang bersabda, "Siapa saja membaca satu huruf Kitabullah [Al-Qur'an], maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatgandakan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." [HR. At-Tirmidzi].

Al-Qur'an sebagai pedoman dan petunjuk hidup umat muslim akan memberikan ketenangan batin bagi siapa pun yang membacanya secara sungguh-sungguh. Tentunya, dihindarkan dari marabahaya, godaan iblis, dan orang-orang musyrik yang mencoba menyerang.

Itulah penjelasan tentang para sahabat Rasulullah SAW yang menjadi penulis wahyu atau penulis Al-Qur'an. Keempat para sahabat Rasulullah SAW tersebut sangat berjasa besar sekali bagi umat Islam. Dengan adanya Al-Qur'an yang tertulis sebagai mushaf, sehingga banyak umat Islam di dunia yang kini bisa memahami isi kandungannya.

Baca Juga: 5 Fakta Umar bin Khattab, Pemimpin Sederhana Sahabat Rasulullah SAW

Video yang berhubungan